Situs Budaya Taman Sari, Wisata Peninggalan Sultan Hamengku Buwono I

1155
Sejarah Wisata Taman Sari Jogja
Tamansari Jogja

Arwini.com – Selain Keraton Yogyakarta, salah satu wisata budaya yang bisa dikunjungi adalah Istana Air Taman Sari atau sering dikenal dengan istilah Water Castle. Selain menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik, keberadaan lokasi wisata ini juga cukup menyedot perhatian wisatawan asing yang sangat antusias dengan situs-situs sejarah yang sarat akan nilai seni dan budaya.

Situs budaya Taman Sari teretak di sekitar 500 meter selatan Keraton Yogyakarta, tepatnya di selatan Pasar Ngasem, yaitu di Kampung Taman, Kecamatan Keraton, Yogyakarta.

Kawasan wisata ini merupakan peninggalan sejarah pada zaman pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I (HB I), yaitu di tahun 1758-1765/9.

Pada awal pembangunan, luas area Taman Sari mencapai 10 hektare, dan terdiri dari sekitar 57 bangunan yang membentang dari sisi barat daya komples Kedhaton hingga tenggara kompleks Magangan.

Bangunan yang ada saat itu berupa gedung, jembatan gantung, kolam pemandian, danau buatan, kanal air hingga pulau buatan serta lorong bawah air. Untuk saat ini, yang masih tersisa hanya beberapa bagian yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.

Taman Sari mulai digunakan oleh Sultan dan keluarganya mulai tahun 1765-1812. Setidaknya ada empat bagian di Taman Sari yaitu danau buatan yang disebut dengan Segaran (laut buatan), pemandian Umbul Binangun, Pesarean Ledok sari, dan Kolam Garjitawati.

Catatan sejarah menyebutkan bahwa di tahun 1812 sebagian bangunan hancur akibat serangan Inggris, dan di tahun 1867 terjadi bencana alam gempa bumi yang meruntuhkan beberapa bagian dari bangunan di Taman Sari. Dan saat ini sebagian lokasi bersejarah tersebut banyak yang sudah menjadi pemukiman penduduk.

Taman Sari dibangun sebagai tempat bagi Sultan dan keluarganya untuk beristirahat dan menenangkan diri. Bangunan yang ada merupakan perpaduan arsitektur bergaya Hindu, Budha, Islam, China dan Eropa yang benilai seni tinggi dan terlukis dalam berbagai relief yang harmonis.

Konon bangunan Taman Sari dibangun oleh Tumenggung Mangundipuro dengan biaya dari Bupati Madiun, Tumenggung Prawirosentiko.

Setelah Tumenggung Mangundipuro mengundurkan diri, pembangunan diambil alih oleh Pangeran Notokusumo. Dan salah satu arsitek dalam pembangunan Taman Sari adalah Demang Tegis, yang berkebangsaan Portugis.

Untuk saat ini beberapa bagian Taman Sari yang masih bisa dinikmati oleh pengunjung adalah kompleks kolam pemandian dengan bangunan menara di yang terletak tengah.

Konon dari menara tersebut Sultan biasa menyaksikan persembahan tarian yang dilakukan di bawah.

Ada tiga kolam pemandian di lokasi ini, yaitu Umbul Kawitan yang diperuntukkan bagi putra putri Sultan, Umbul Pamuncar untuk para selir dan Umbul Panguras untuk Sultan.

Selain kolam pemandian, pengunjung juga bisa menyaksikan kemegahan Gapura Agung yang difungsikan sebagai lokasi tempat kedatangan kereta kencana yang dikendarai oleh sultan dan keluarganya.

Di sebelah selatan ada tempat pesanggrahan yang berfungsi sebagai tempat meditasi bagi Sultan, area ini juga dulu digunakan untuk menyimpan senjata maupun peralatan perang kerajaan, serta tempat penyucian pusakan kerajaan.

Adapun palataran yang cukup luas di depannya berfungsi sebagai tempat bagi parajurit untuk berlatih pedang. Selain kolam pemandian pengunjung juga bisa menikmati Sumur Gumuling dengan menyusuri terowongan bawah tanah.

Baca Juga: Sejarah Tugu Jogja, Icon Tempat Wisata di Yogyakarta

Sumur gumuling berbentuk bangunan melingkar dan merupakan masjid bawah tanah dengan desain dua tingkat tempat Sultan dan keluarga kerajaan melakukan ibadah, pengunjung akan dibawa dalam suasana yang berbeda jika berada di lokasi ini.

Objek lain yang masih bisa disaksikan saat ini adalah Gedung Kenongo yang juga dikenal dengan Pulo Cemethi dan merupakan gedung tertinggi di area Taman Sari yang terdiri dari dua tingkat.

Walaupun yang tersisa hanyalah puing bangunan, namun dari lokasi ini Anda bisa menikmati kekayaan budaya dan sejarah Taman Sari secara keseluruhan.

Lokasi wisata Taman Sari buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB – 14.00 WIB, dengan tiket masuk sebesar Rp 5.000.

Bagi pengunjung yang ingin mendapatkan penjelasan secara lengkap mengenai Taman Sari bisa dipandu oleh guide dengan menambah biaya sebesar Rp 25.000-Rp 50.000.

Selain area parkir yang cukup luas, pengunjung yang ingin melaksanakan ibadah sholat bisa melakukan di Masjid Soko Tunggal yang masih berada di kawasan Taman Sari.

Masjid ini dibangun pada tahun 1972 oleh seorang arsitektur Keraton, dan hanya memiliki satu tiang (soko) dengan ukuran 50x50cm di tengah ruangannya, sehingga dikenal dengan Masjid Soko Tunggal.

Banyaknya ukiran dan ornamen yang menghiasi masjid ini sarat akan simbol dan pesan moral yang tinggi.

Selain dibangun tanpa menggunakan paku, masjid ini semakin istimewa karena ditopang oleh batu penyangga (umpak) yang berasal dari zaman pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Demikianlah deskripsi sejarah, alamat, lokasi hingga jam dan tiket masuk Istana Air Taman Sari Kota Jogja. Mudahan Bermanfaat

Loading...
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here