Desa Wisata Ketingan, Menatap Kawanan Burung Kuntul Hidup Berdampingan dengan Warga

1316
Alamat Desa Wisata Ketingan
Habitat Alami Burung Kuntul Desa Wisata Ketingan (Foto: Kartudiskonjogja.com)

Arwini.com, Desa Wisata Ketingan –¬†Potensi desa wisata di Yogyakarta semakin berkembang seiring dengan minat wisatawan yang gemar akan pesona wisata desa yang penuh dengan potensi alam dan seni budaya yang memikat.

Masing-masing desa wisata memiliki ciri khas dan keunikan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para traveller untuk mengunjungi berbagai lokasi desa wisata yang ada di beberapa wilayah di kota Gudeg ini.

Salah satu desa wisata yang wajib disinggahi adalah Desa Wisata Ketingan, karena lokasi wisata yang terletak di Dusun Ketingan, Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman ini akan membuat siapapun takjub dengan pemandangan yang ada di desa wisata ini.

Rasa takjub tak lain karena desa ini menjadi habitat alami dari ribuan burung kuntul yang hidup berdampingan dengan masyarakat di desa setempat.

Tiket Masuk Desa Wisata Ketingan
Burung Kuntul Desa Wisata Ketingan (Foto: Gudet.net)

Bermula dari peresmian gapura dusun oleh Sri Sultan HB X di tahun 1997 silam yang diikuti oleh fenomena alam yang tak terduga, dimana beberapa hari setelah peresmian tesebut kawanan burung kuntul yang jumlahnya mencapai ribuan tiba-tiba menyerbu dusun Ketingan.

Serbuan tersebut memicu para burung Kuntul membuat sarang di semua pohon yang tinggi. Uniknya, kawanan burung ini tidak membuat sarang di dusun lain di sekitarnya yang memiliki pepohonan yang hampir sama. Dan di tahun 2000 secara resmi desa ini dibuka sebagai Desa Wisata Ketingan oleh Sri Sultan HB X.

Pada awalnya, kedatangan ribuan burung kuntul yang tiba-tiba tak urung membuat warga masyarakat di dusun Ketingan merasa terganggu, mulai dari rasa khawatir akan hasil panen mlinjo yang menurun akibat pohonnya digunakan sebagai sarang, hingga khawatir dengan efek kesehatan akibat kotoran burung yang ada di hampir jalan-jalan dusun maupun pekarangan rumah warga.

Beberapa warga bahkan sempat mengusir kawanan burung kuntul tersebut, namun upaya tersebut tampaknya sia-sia karena kawanan burung kuntul tersebut seolah telah menemukan habitat alaminya yang nyaman, hingga akhirnya warga pun bisa menerima kehadiran kawanan burung kuntul tersebut dan hidup berdampingan dengan mereka tanpa saling mengganggu satu sama lain.

Bahkan warga setempat sudah hafal dengan siklus kehidupan burung kuntul, mulai dari waktu mencari makan, membuat sarang, hingga waktu migrasi yang biasanya terjadi di bulan Sepetember.

Pada bulan tersebut warga masyarakat bisa merasakan kehidupan tanpa kehadiran burung kuntul, dan pada pertengahan bulan Oktober warga pun kembali bisa melihat kawanan burung kuntul yang pulang dari migrasinya.

Hingga saat ini jumlah burung kuntul yang hidup di lokasi desa wisata Ketingan setidakknya ada sekitar 7 ribu ekor.

Tidak mengherankan jika kawasan wisata desa ini kemudian menjadi tempat favorit bagi para peneliti satwa yang ingin mengetahui lebih jauh tentang kehidupan burung kuntul di habitat alaminya.

Di desa wisata ini, Kamu akan disuguhi dengan pemandangan pedesaan yang asri dengan sawah dan pepohonan yang rindang.

Sangat cocok bagi Kamu yang ingin menikmati kehidupan di desa dan sejenak menjauh dari hiruk pikuk kota yang menyesakkan.

Menatap kawanan burung kuntul yang beterbangan ke sana kemari tentu bisa menjadi salah satu obat untuk menurunkan tingkat kepenantan yang ada.

Selain mengamati kehidupan burung kuntul dari menara pengamatan burung, Kamu juga bisa mengikuti berbagai aktivitas di pedesaan yang menyenangkan, seperti bertani ataupun mengikuti kegiatan seni tradisonal yang akan menambah pengetahuan Kamu tentang budaya daerah yang patut dilestarikan, mulai dari kesenian jathilan, gejog lesung hingga pek bung yang unik.

Selain itu di desa ini juga rutin diselenggarakan tradisi Merti Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah. Dan sebelum panen raya biasanya akan diselenggarakan tradisi wiwitan yang tak lain adalah syukuran sebelum panen dan tradisi angler yaitu selamatan sebelum masa tanam padi.

Cukup menarik bukan? Kamu bisa menginap di homestay yang ada di desa wisata ini untuk mengetahui bagaimana tradisi tersebut berlangsung, dengan tarif menginap yang cukup terjangkau yaitu sebesar Rp 75.000 per malam sudah termasuk makan 3 kali.

Baca Juga: 5 Desa Agrowisata di Sleman yang Wajib Dikunjungi

Untuk mencapai lokasi wisata ini cukup mudah, yaitu dari terminal Jombor ke arah barat sekitar 1 km hingga sampai perempatan Pasar Cebongan, Kamu bisa mengambil arah ke kiri ke arah Mapolsek Mlati sejauh 300 meter dan cukup ikuti penunjuk arah menuju Desa Wisata Ketingan di kiri jalan.

Loading...
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here